About Me
Namaku : Epy Buchari, dengan nama kecil yang digunakan di kalangan keluarga, kerabat, dan teman dekat : Cang, serta nama gelar adat Minangkabau dari suku Tanjung : St. Bandaro.
Aku adalah salah seorang dari sekian milyard insan Allah yang dengan Rahman & RahimNya telah menempuh perjalanan duniawi yang cukup panjang : dilahirkan pada zaman penjajahan Jepang, berstatus balita pada masa perjuangan kemerdekaan, menjalani masa kanak-kanak dan remaja pada masa Demokrasi Terpimpin, menjadi dewasa dan berkarya pada masa Demokrasi Pancasila, dan pindah dari “jalur cepat” ke “jalur lambat” alias masa lanjut usia pada masa Reformasi atau Demokrasi Liberal.
Dari masa yang panjang itu, lebih dari 10 tahun diantaranya dihabiskan sebagai PNS, lebih dari 30 tahun sebagai professional engineer & pengusaha, dan lebih pula dari 5 tahun terjun ke dunia pertanian & peternakan.
Tempat-tempat yang kusinggahi cukup lama adalah Bukittinggi/Padang, Palembang, Malang, Bandung, dan Jakarta. Sekarang aku “berlabuh” di Ciputat Timur, Tangerang Selatan yang terletak di bagian Selatan Jakarta.
Aku berada di Sumataera Barat praktis hanya sampai berusia 7 tahun saja. Tapi kebetulan sejak tahun 1968 sampai awal tahun 2000an selalu ada tugas di berbagai bagian Sumatera Barat di bidang jalan raya, perkebunan,dan pemukiman transmigrasi, yang mengharuskan aku untuk datang ke daerah ini dari waktu ke waktu.
Persentuhan dengan pejabat terkait, kontraktor, konsultan, dan anggota masyarakat secara langsung, menjadikan aku menjadi agak akrab dengan beragam permasalahan Minangkabau.
Masa -masa memasuki usia senja ini adalah saatnya untuk berkontemplasi sambil mencari manfaat dari perjalanan panjang kehidupan yang beragam tersebut.
Website atau Blog bernama “kadaikopi” ini semula didesain sebagai sebuah website keluarga. Tapi dari pengamatan atas awal perjalanan hidupnya, tampaknya akan lebih bermanfaat jika cakrawala “keluarga besar” diperluas cakupannya ke arah kampung halaman, daerah tercinta, sampai pada Indonesia yang menjadi ladang perlintasan masa “pengembaraan” yang cukup panjang diatas.
Aku adalah penulis dari sebagian besar artikel dalam blog ini, walaupun sangat diharapkan juga tulisan dan comment dari para contributor yang lain yang diharapkan tertarik untuk mampir, sharing, sumbang pikiran, sumbang saran dan sumbang komentar dan tulisan atas beragam topik yang dibahas ; yang secara bersama-sama akan merupakan sumbangan pemikiran atau malahan sumbangan dalam bentuk tindakan yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan kehidupan di sudut-sudut bumi tempat kita “sekadar mampir dan minum-minum” ini.
Oh ya, penggunaan nama ‘Bandarost” bukan sok Spanyol, itu hanya sekadar cara penulisan lain dari gelar adat ”St. Bandaro” yang diberikan para niniak mamak sewaktu mulai berumah tangga dulu. Kalau pakai nama “St. Bandaro” saja, mungkin ada ribuan warga Minang yang memiliki gelar adat yang sama dengan yang satu ini.
Wassalam.


Leave your response!