Home » Featured, INDONESIA, RANAH MINANG, SEJARAH

Bagian 1> Jalan KA Maut Muaro-Pekanbaru yang Sia-sia dan Dilupakan: Misteri Lok Uap di Jalan Sail, Pekanbaru

3 February 2009 3,417 views 6 Comments


Monumen di Pekanbaru & Lipat Kain

tahun 1961-1964 orang tua saya menetap di Pekanbaru karena menangani pekerjaan di kompleks lapangan terbang AURI Simpang Tiga.

Pada tahun 1963 saya pernah  berlibur ke Pekanbaru dengan satu-satunya sarana transportasi yang dapat digunakan waktu itu : pesawat GIA ( Garuda Indonesian Airways, nama perusahaan penerbangan Garuda waktu itu). Angkutan udara merupakan pilihan satu-satunya yang memungkinkan. Jalan darat belum ada, naik kapal nyambung-nyambung jalan darat, bisa-bisa sampai di Pekanbaru liburannya sudah habis. Zaman itu pelajar dan mahasiswa diberi keringanan berupa discount ticket 50%, dengan sedikit pengurusan administratif yang  sekadar memerlukan surat keterangan domisili orang tua kita.

Orang tua saya waktu itu tinggal  di Jalan Sail yang menurut ingatan saya hanya berjarak sekitar 100 meteran dari tepi Sungai Siak. Yang paling melekat dalam ingatan saya tentang rumah itu sampai saat ini adalah keberadaan sebuah lolomotif uap di kebun bersemak di belakang rumah itu. Lokomotif boleh dikatakan  masih dalam keadaan utuh.

Orang tua saya menjelaskan bahwa lok uap tersebut   berasal dari Muaro di Sumatera Barat, yang dibawa tentara Jepang melalui jalan kereta api yang dibuat dari Muaro melalui Logas sampai ke Pekanbaru. Beliaupun bercerita tentang ribuan romusha yang dipekerjakan secara paksa membangun jalan kereta api itu bersama tawanan perang tentara sekutu. Jalan kereta api ini ternyata tidak pernah atau tidak sempat dimanfaatkan oleh tentara Jepang karena Jepang sudah keburu kalah dalam Perang Dunia ke 2  setelah “dipaksa” menyerah setelah  Sekutu menjatuhkan bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Saya sangat terpukau dengan kisah orang tua saya ditambah dengan keberadaan sisa sejarah tersebut di belakang rumah di jalan Sail itu. Kenapa ? Karena beberapa tahun sebelumnya di Indonesia diputar film kisah perang Dunia ke 2 yang  sangat terkenal yaitu “Bridge on the River Kwai” yang diangkat berdasarkan kisah nyata pembuatan jalan kereta api antara Thailand dan Burma oleh tentara Jepang yang juga dikerjakan oleh Romusha yang sebagian berasal dari Indonesia, dan tawanan perang Sekutu (POW=Prisoner Of War). Film ini dibintangi oleh William Holden, Alex Guiness dan Jack Hawkins yang merupakan bintang-bintang film legendaris Holywood.

Romusha di Jalan KA Maut Birma-Siam

Kisah orang tua saya yang terkait dengan bukti keberadaan lok uap di  jalan Sail itu, menyadarkan saya bahwa kisah yang sangat serupa tampaknya juga pernah terjadi di Sumatera.

Bukti-bukti sejarah di Pekanbaru ini  menarik minat saya karena kebetulan setahun sebelum ke Pekanbaru itu saya liburan dengan teman-teman ke Tanjung Karang – Lampung, dan mengunjungi bukti kehebatan ledakan dahsyat gunung Krakatau tahun 1883 berupa sisa setengah utuh dari sebuah kapal uap yang terlempar oleh ombak (yang belakangan ini dikenal sebagai tsunami) sebagai akibat hancurnya gunung tersebut. Tsunami melemparkan kapal uap itu   ke hulu sungai yang saat itu terletak disebuah bukit di tengah kebun kelapa di pinggiran kota Tanjung Karang. Sungai itu tampak meliuk-liuk menuju lautan yang tampak terletak sangat jauh.

Sejak itu saya sangat terobsesi dengan sisa-sisa sejarah berupa kapal di Tanjung Karang dan lok uap di jalan Sail  selama bertahun-tahun. Kepada teman yang kebetulan orang Lampung dan orang Pakanbaru saya selalu menanyakan keberadaan kedua buah bukti sejarah tersebut. Saya sedih kemudian hari mendengar bahwa sisa kapal sudah tidak ada, mungkin dijual sebagai besi tua. Demikian juga dengan teman dari Pekanbaru, mereka malah tidak pernah tahu dengan adanya lok uap di tengah kota Pekanbaru, ataupun kisah jalan kereta api maut Muaro-Pekanbaru yang memilukan itu.  Ada perasaan sedih karena peristiwa besar bersejarah itu seakan menjadi hilang saja dibawa angin lalu.

Beberapa kali saya ke Pekanbaru dalam rangka pekerjaan, tapi tidak pernah sempat untuk berkunjung kembali ke Jalan Sail. Sampailah kira-kira tiga tahun yang lalu saya singgah di Pekanbaru dan menyempatkan diri untuk menelusur kembali keberadaan lok uap di jalan Sail dengan bantuan seorang teman, bung Syahrial urang awak yang sudah lama menetap di Pakanbaru. Dia kaget karena tidak pernah tau dengan kisah jalan kereta api Muaro-Pekanbaru itu, apalagi tentang sisa lok uap di jalan Sail, sedangkan katanya isterinya bekerja  menangani museum di Pekanbaru.

Kami datang ke jalan Sail dan menanyakan keberadaan sebuah lok uap kepada penduduk di sepanjang jalan itu. Semua mengatakan tidak pernah tahu. Seorang penduduk separoh baya menyarankan untuk mencarinya di jalan Lokomotif yang terletak tidak jauh dari jalan Sail.

Pencarianpun gagal tidak menghasilkan sesuatu informasi keberadaan si lok bersejarah itu, sampai seseorang menyebutkan adanya sebuah monumen peringatan pekerja kereta api di pinggir jalan di daerah arah ke Simpang Tiga (saya lupa nama jalannya, tapi rasanya jalan yang menuju ke luar kota (tapi bukan jalan ke Bangkinang).

Hati saya lega karena kami kemudian menemukan monumen tersebut, di tepi jalan, di tengah semak lalang.

Monumen ini berupa sebuah lokomotif uap yang diletakkan diatas sebuah pelataran yang ditinggikan kira-kira 1.50 meter dari muka tanah. Di sebelahnya terdapat makam yang juga tidak terurus. Melihat adanya nama Jawa di nisan makam, tampaknya sejumlah mantan romusha yang selamat dan kemudian meninggal di daerah Riau  dimakamkan di sini. Di dinding monumen tercantum keterangan singkat tentang jalan kereta api maut Muaro-Pekanbaru dan para korban romusha. Lok uap berada dalam kondisi yang boleh dikatakan utuh.

Saya tidak tahu apakah lok itu adalah lok yang dulu saya lihat berada di belakang rumah di jalan Sail. Tapi saya mulai berfikir tentang kemungkinan keberadaan lebih dari satu buah lok uap yang sempat melewati rute maut itu dibawa dari Muaro ke Pekanbaru oleh bala tentara Jepang. Saya bersyukur bahwa minimal ternyata Pemda Riau memiliki kepedulian atas peristiwa bersejarah yang menelan nyawa puluhan ribu romusha dan ribuan orang tawanan perang Sekutu yang tewas dalam proses pembuatan jalan kereta api Muaro-Pekanbaru.

sumatra_workers2

Walau sudah mengetahui monumen di kota Pekanbaru tersebut, saya masih penasaran ingin sebanyak mungkin mengetahui kisah pembuatan kereta yang sangat menarik dan tragis ini. Tidak banyak yang dapat saya lakukan , sampai  akhirnya ditunjang oleh kemajuan teknologi komunikasi pada beberapa tahun terakhir ini, saya  mulai menggunakan fasilitas internet secara lebih intensif untuk mencari beragam data dan informasi yang terkait dengan pembangunan jalan KA maut tersebut. Ternyata cukup banyak situs yang tersebar di dunia maya yang menceritakan peristiwa besar, baik yang berasal dari pemerintahan Belanda, Inggris, Australia, serta juga yang memuat penuturan Prisoner Of War (POW) Sekutu yang ikut dalam pembangunan apa yang disebut sebagai “Death Railway” Muararo-Pekanbaru, dan berhasil bertahan dan selamat keluar dari neraka di tengah kerimbunan hutan Sumatera itu.

Satu demi satu data dan informasi menyangkut “Death Railways” Muaro- Pekanbaru mulai diperoleh dan sejarah ini mulai pula terungkap secara lebih jelas.

Penelusuran lebih lanjut atas peristiwa ini lebih menyadarkan saya akan “skala” atau “magnitude” dari peristiwa ini yang ternyata cukup besar dilihat dari jumlah korban tewas yang mencapai puluhan ribu jiwa.

Mengingat lebih dari seribu jiwa korban tersebut merupakan POW, ternyata terdapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah Belanda, Inggris, dan Australia yang masing-masing kehilangan ratusan orang warganya di sana.

mappakanbaroe6003

Ketika saya mencermati sebuah gambar sketsa peta bagian Utara kota Pekanbaru yang dibuat oleh salah seorang tawanan perang Sekutu sebagaimana tampak di atas, saya baru menyadari bahwa ketika saya mengamati lok uap tua di belakang rumah orang tua saya di jalan Sail pada tahun 1963 yang silam itu, sebenarnya saya sedang berdiri kira-kira tepat diatas kawasan yang merupakan bengkel, stasiun, dan pusat logistik pembangunan jalan kereta api maut itu di Pekanbaru (!) Di gambar itu tampak bahwa kawasan dimaksud berada dekat sekali dengan sungai Siak.

Pada tahun 1963, tanpa disadari saya ternyata sebenarnya berada di atas kawasan yang kira-kira 20 tahun sebelumnya penuh dengan hiruk pikuk aktivitas pembangunan, kekerasan, kekejaman, penyiksaan, keputus asaan, dan kematian secara amat mengenaskan dari orang-orang yang direbut kemerdekaan dan kebebasannya oleh pihak yang saat itu memenangkan peperangan……..

Peristiwa bersejarah yang menelan korban puluhan ribu jiwa yang tewas dengan cara yang sangat mengenaskan, ternyata luput dari perhatian Pemerintah dan masyarakat Indonesia. Pernah peristiwa besar ini diingat dalam bentuk pembangunan monumen lok uap diatas, tapi ternyata kisah ini sudah sangat lama dilupakan…..[eb]

=====================================================================================

“Jalan KA maut Muaro-Pekanbaru yang Sia-sia dan Dilupakan” terdiri dari 6 bagian sebagai berikut  (masing-masing bisa langsung di klik) :

Bagian 1 > Misteri Lok Uap di Jalan Sail, Pakanbaru

Bagian 2 > Bridge on the River Kwai, Kita Juga Punya

Bagian 3 > Jalur Strategis & Kerja Paksa

Bagian 4 > Kekejaman Perang & Penindasan di Rimba Sumatera

Bagian 5 > To Forgive But Not To Forget

Bagian 6 > Death Railway Ketiga : Saketi – Bayah

=============================================================

6 Comments »

  • hariyanto said:

    Selamat,pak Epy Buchari.

    mestinya pemda setempat lebih memperhatikan dearah disekitar loko uap tersebut. ini merupaka aset sejarah bangsa kita, tapi sayang kurangnya perhatian pemda untuk mempromosikan lokasi tersebut.

    salam

  • Bandarost said:

    Terima kasih pak Hariyanto telah mampir di ‘kadaikopi’.
    Peristiwa sejarah yang menelan banyak korban tentara sekutu dan terutama rakyat Indonesia ini memang tampak seperti terlupakan atau DIlupakan oleh Pemprov Riau, Pemprov Sumbar dan Pemerintah Pusat.
    Apa ada masalah ewuh pakewuh dengan pemerintahan ’saudara tua’ kita di Tokyo yang banyak memberikan kredit dan berinvestasi di negeri ini ? Entahlah…..
    Di Thailand route ‘death railways mereka bisa dijual untuk para wisatawan yang tertarik dengan peristiwa Perang Dunia II dengan segala kekejamannya terhadap kemanusiaan.
    Kita sendiri…? Kita seperti sengaja menutup nutupi borok saudara tua kita orang Jepang yang sekarang sudah jadi bangsa yang sangat kita hormati…
    Apakah kita memang sudah kehilangan semua harga diri kita….? Dan kembali ‘terjajah’ (secara ekonomi) untuk kedua kalinya….?

  • tedy said:

    sejarah mengenai kereta api di pekanbaru pernah saya lihat salah satu fotonya di stasiun kereta api bandung.
    sudah 2 tahun ini hampir setiap 2 bulan sekali saya ke pekanbaru, dan sering bertanya ke orang di pekanbaru mengenai kereta api disana dan hampir 100% orang di pekanbaru tidak tahu mengenai keberadaan kereta api tersebut.
    mengenai lokasi yang disebutkan diatas saya kurang paham daerahnya. mungkin Bapak bisa menjelaskan mengenai lokasi lengkap monumen kereta api tersebut.
    kebetulan bulan desember ini saya akan ke pekanbaru dan akan pasti akan saya cari daerah tersebut. terima kasih

  • Bandarost said:

    Bung Tedy,

    Sewaktu saya beberapa tahun yang lalu itu menelusur peninggalan lok uap mulai dari jalan Sail, jalan Lokomotif (dekat jalan Sail, juga tidak jauh dari Sungai Siak), Monumen Romusha, sampai saat menulis artikel diatas, saya juga lupa nama jalan tempat monumen itu terletak.
    Syukurlah seorang warga Pekanbaru bpk Rasyid Taufiq yang membaca artikel ini mengirimkan komentarnya liwat milis RantauNet. Dari beliaulah saya memperoleh informasi yang jelas tentang lokasi monumen ini. Monumen terletak di JALAN IMAM MUNANDAR, kawasan Simpang Tiga (Bandara).
    Saya masih ingat, terletak di pinggir jalan dengan pelataran corn block yang ditumbuhi lalang, begitu juga makam mantan romusha yang terletak di samping monumen tersebut.
    Lok uap jelas kelihatan dari jalan karena diletakkan disuatu pelataran dengan tinggi kira2 1 meter. Dinding semen pelataran dihiasi dengan sketsa rute KA Maut Muaro-Pekanbaru ini.
    Yah, memenag sebagian besar warga Pekanbaru tidak tahu mengenai kisah tragedi sejarah ini. Mereka (sebagaimana juga halnya warga Sumbar) tidak memiliki sesuatu informasi tentang kisah ini.
    Pemda Sumbar yang saya hubungi liwat email hanya membalasnya dengan : terima kasih atas informasinya, dan bahwa mereka akan menelusurinya. Tapi tidak ada follow up sama sekali sesudah itu.
    Menyangkut sejarah, memang banyak keanehan yang terjadi dengan bangsa kita ini…..

  • Havid Ardi said:

    Assalammualaikum Pak Epy.
    Kalau pak mancaliak lok uap nan di Pakanbaru, ambo mendengar di Muaro masih ado satu lagi lok nan tingga. Tampeknyo agak masuak ka pelosok. Ambo alun lo melihat lok jenis apo. Adiak ipar nan mangatoan. Nampaknyo mungkin kurang diperhatikan. Mungkin ado jejak sejarah yang bisa diungkap.

    H.A Dt. Rangkayo Mulia

  • Bandarost said:

    Walaikumsalam Bung Havid,

    Mungkin nan dimukasuik nan talatak di Jorong Silakah, Nagari Durian Gadang ?
    Kalau nan iko, bisa dibaco di bagian lain tulisan ko yaitu Bagian 5>Jalan KA Maut Muaro – Pekanbaru Yang Sia-sia dan Dilupakan : “To Forgive But Not To Forget”.

    Wassalam

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.