Indonesia, Truly Atlantis……….
Ingat iklan pariwisata Malaysia yang cantik itu ? Malaysia, Truly Asia…
Banyak orang kita yang sebal melihat iklan yang bagus itu, karena banyak hal-hal yang digambarkan dalam iklan itu sebenarnya lebih banyak dijumpai di pelbagai wilayah Indonesia dari pada di Malaysia.
Yah, kita selalu ‘keduluan’ oleh mereka.
Hal lain yang menyebalkan menyangkut negeri tercinta ini adalah manakala ada yang mengatakan bahwa banyak orang di Amerika atau di luar negeri yang tidak mengenal Indonesia. Katanya mereka tahu Bali, tapi Indonesia itu dimana sih…., konon tanya mereka…..
Tapi perkembangan terbaru rada beda ; mempromosikan Indonesia akhir-akhir ini mestinya ibarat mendayung perahu ke hilir, yang didorong arus sungai dari belakang. Banyak kemudahan yang didapat secara gratis.
Bukan hanya akibat kedatangan Hillary Rodam Clinton, tapi terutama oleh ulah Prof. Arysio N. dos Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis the Lost Continents Finally Found”.
Dimana ditemukannya ?
Secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia (!).
Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari para Dewa. Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis itu.
Pencarian dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah, Caribea, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata.
Profesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah.
Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia, katanya. Dia mengatakan bahwa dia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini.
Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.
Kualifikasi Santos dapat dilihat dengan cara di KLIK DISINI.
Buku Santos sewaktu ditanyakan ke ‘Amazon.com’ seminggu yang lalu ternyata habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah sites di Internet, dan websitenya sendiri menurut Santos selama ini telah dikunjungi sebanyak 2.500.000 visits.
Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana 1 sen pun dari Pemerintah RI.
Sebagaimana dapat diikuti dari websitenya, Plato menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World).
Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Para dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.
Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.
Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.
Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.
Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah
selat yang mengikuti garis ‘Wallace’. Lihat gambar 1.
Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.
Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.
Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.
Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.
Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene).
Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.
Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.
Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Lihat Gambar 1.
Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.
Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.
Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.
Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.

Santos telah menduga hal ini lebih dari 20 tahunan yang lalu sewaktu dia mencermati tradisi-tradisi suci dari Junani, Roma, Mesir, Mesopotamia, Phoenicia, Amerindian, Hindu, Budha, dan Judeo-Christian.
Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.
Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu.
Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.
Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya.
Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!).
Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.
Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. . Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.
Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.
Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.
Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia.
Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.
Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik.
Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.
Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain.
Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.
Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia.
Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’ (KLIK DISINI).
Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia.
Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas.
Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun.
Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.
Allah SWT juga berfirman bahwa nasib manusia ini memang Dia pergilirkan. Yang mulia suatu saat akan menjadi hina, dan sebaliknya.
Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.
Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ?
Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini ?
Coba dong beri pula perhatian yang memadai.
Atau coba kita renungkan penyebab Atlantis dulu dihancurkan : penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya). Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.
Khususnya bagi warga Minang, ada juga ‘utak-atik’ yang bisa dilakukan.
Santos mengatakan berdasarkan penelitiannya bahwa berbagai kisah tentang negara bak ‘surga’ yang kemudian menjadi hilang, bencana banjir besar, letusan gunung berapi, dan gempa dahsyat ditemui pada kisah-kisah berbagai bangsa di seluruh dunia. Kisah ini mirip satu dengan lainnya.
Apa pula kata Tambo Minangkabau tentang ranah Minang zaman baheula ?
“….Pada maso sabalun babalun balun, urang balun pinangpun balun, samaso tanah ameh ko sabingkah jo Simananjuang, kok gunuang baru sabingkah batu, tanah darek balun lai leba……, lah timbua gunung Marapi” (Pada masa serba belum, orang belum pinangpun belum, semasa tanah emas ini masih menyatu dengan Semenanjung, gunung baru sebingkah batu, tanah daratan belum lebar, sudah timbul gunung Merapi). Ada lagi “…waktu bumi basintak naiak, lauik basintak turun…” (Sewaktu daratan bergerak naik, laut bergerak turun).
‘………Samaso tanah ameh sabingkah jo Simananjuang’ , ini adalah masa sewaktu Atlantis masih exist.
Konon kabarnya pula, sejumlah menhir yang berjumlah 800an buah di Mahat posisinya menghadap kearah matahari terbit, atau kearah Timur.
Arah Timur dari Mahat adalah arah lokasi Atlantis versi Santos yang tenggelam oleh tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan gempa bumi.Arah Timur dari Mahat adalah arah lokasi Atlantis versi Santos yang tenggelam oleh tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan gempa bumi.
Pulau Sumaterapun ternyata tertulis dalam kisah Atlantis, yang disebut sebagai Taprobane.
Dulu Taprobane ini diartikan sebagai Ceylon, tapi kalau melihat ukuran besarnya tidak syak lagi bahwa Taprobane adalah Sumatera yang dikisahkan kaya dengan emas, batuan mulia, dan beragam binatang termasuk gajah.
Itulah kira-kira teori Santos secara sangat ringkas.
Bagi yang berminat untuk membaca lebih jelas, dapat langsung ke website Profesor Santos http://atlan.org/ atau membeli bukunya yang disebutkan diatas ke penerbit ‘Amazon.com’ (kalau sudah ada terbitan barunya).
Dan….perusahaan penerbangan mana yang akan memulai dengan iklan : Indonesia, Truly Atlantis………[eb]












Dear Mr, Buchari,
First of all I want to let you know that I give you permission to have the present 7 March 2009 article regarding Prof. (Dr.) Ayrsio Santos’ work on Atlantis on your blog because you at least gave the appropriate credit to Dr. Santos and his website on Atlantis. I had it translated in brief by my Indonesian friend and it seems to be an ok article… I might point out although many Americans may not know where Indonesia (Atlantis) is, but this American certainly does as well as our new President Barack Obama as he lived there between the ages of 6 and 10. Also to let you know I fully intend to educate my fellow citizens as well as the rest of the world exactly where Indonesia (Atlantis) is. You can also be helpful in this regard by sending me by e-mail a translated copy of your article in English or posting an English version on your website of both…. But in any case please send me a translated English version for my records.
By the way, we have updated this website: http://atlan.org/copyright/1997 posting quite a while back to this: http://www.atlan.org/copyright/ (Copyright© 1997-2005 Arysio Nunes dos Santos) so that person wishing to make reference to Dr. Santos’ work would ask permission first and this way we are able to make sure he gets the proper credit for his work. The former posting is only up there for historical copyright purposes and the updated one now takes precedence over the former. In addition, we will probably update it again sometime in the near future. I might also point out that some people simply post Prof. Santos’ work on Atlantis without referencing him or his website. I am in the process of collecting information on these persons now so we can take the appropriate legal action in the future.
So please before posting anything else ask me first and wait till I get back to you before going ahead. Let’s work together regarding Prof. Santos amazing work and discoveries so you, as well as the rest of the Indonesian people can potentially benefit from Dr. Santos’ work. I look forward to seeing your article in English.
Best regards,
–
Frank Joseph Hoff – B.A.B.A. Univ. of WA
President, Mktg. Dir., Researcher, Understudy, Lecturer
ATLANTIS PUBLICATIONS, INC.
Lynnwood, (Seattle) WA 98037 U.S.A.
Bus. E-Mail: frank@atlantispublications.com
Web Site E-Mail: frank@atlan.org
Atlantis – The Lost Continent Finally Found
Author: Prof. Arysio Santos, Ph.D.
Web Site: http://www.atlan.org
Dear Mr. Hoff,
Thank you for giving me permission to keep the 7 March 2009 article concerning Mr. Santos’ book in my blog.
I’ll prepare the English translation and will send it to you for your record.
I’m sorry that my ability to translate Indonesian into English is much less than translating English into Indonesian. Anyhow I’ll try.
As far as I know many websites and blogs, as well as mailing lists already discussed this book since at least two years ago.
I believe that it is not an easy task to controle the copywright of articles already spreading in the internet.
I honestly hope that you and your organization could develop Prof (Dr) Ayrsio Santos’ amazing works in the near future.
It’s really a great theory, which still need a bunch of evidences to prove or strengthening it.
May God bless you.
Best regards,
Epy Buchari
jadi awk harus bangga jadi urang minang….
awak dulu alah ebat sampai kini….
suku minang tu memang ditakdirkan cerdas////
berarti tidaklah salah M.YAMIN berpendapat bahwa “orang indonesia asli INDONESIA”kita memang bangga dengan nenek moyang kita dahulu, tapi kita tidak boleh berbangga saja dengan apa yang nenek kita peroleh melainkan kita harus membangun kembali kejayaan yang pernah runtuh tsb!!!
Memang luar biasa negara kita trcinta ni. Negara yg dsebut sbagai zamrud khatulistiwa,dmna trlmpah bgtu bnyk kekyaan alam yg trkndung d dalm’y yg mgkin blm bnyk kta ktahui. Bhkan sperti yg sama2 kita tahu sperti lgu koesplus,tongkat kayu bsa jdi tnaman. Saya sbgai pemuda INDONESIA sngat bgga dgn bgsa ni. Bgi para pengusaha bijaklah dalm memanfaatkn kekyaan alm d INDONESIA ku ni,jgan sampai trlalu memntingkn dri sndri tnpa pduli dgn lngkungan skitar. Jgn serakah sprti kasus lumpur SIDOARJO yg sampai saat ni blm tertangani. Mgkin bncna yg sring trjdi akhr2 ni adlh prngatan bgi bgsa INDONESIA agr lbh bijak dlm memanfaatkn kekyaan alm. Jgan hny brkomentar dn tinggl diam. Mulailh dgn hal2 kcil,sprti mmbuang smpah pda tmpt’y atau mnanam phon dskitar rumah. InsyaALLAH dgn bgtu kta bsa mewarisi alam negara kta ni kpada ank dn cucu kta,shngga mereka dpt hdup mkmur d kmudian hari…
Kalo mau dishare difacebook, ada syaratnya ga? atau boleh langsung klik ikon fb diatas?
Bung Tatag,
Silahkan dishare di fb dengan menyebutkan sumbernya yang jelas, atau link ke ‘kadaikopi’ http://kadaikopi.carpediem123.com/?p=1668
Artikel ini dibuat memang agar orang kita minimal mengetahui bahwa ada lho teori menarik menyangkut ‘Atlantis’ yang dikaitkan dengan Indonesia…
Benar tidaknya….? Kita serahkan saja pada perjalanan waktu kelak…
Yang jelas (menurut saya) apa yang secara cerdas bisa kita manfaatkan dari buku ini terkait dengan upaya mempromosikan Indonesia…
Wassalam
Mnt izin dshare kFb boleh?
Marilah kita mensyukurinya disertai rasa tanggung jawab yang besar. Kita sudah terbiasa dengan buaian kata kata “negeri kita elok nan kaya” “bumi kita indah bak hamparan permadani hijau” dsb dsb tapi kita secara bersama sama merusaknya sendiri. Marilah kita tumbuhkan rasa cinta kita pada bumi pertiwi ini dengan perbuatan. Jangan biarkan lahan hijau kita menjadi pabrik pabrik, jangan biarkan mata air kita dikuasai pabrik air mineral. PDAM bersusah payah menyaring air sungai yang kotor untuk menjadi air minum, tapi pabrik pabrik air mineral dengan seenaknya berbondong bondong merambah gunung dan menguasai mata air yang sejak dahulu kala mengairi sawah2 kita. Apakah bapak bapak dikota pernah melihat bagaimana sawah sawah dibeberapa desa kering sementara truk truk besar mengangkut berlalu lalang mengangkut air untuk dibotolkan?
Shinta,
Silahkan di share di fb dengan menyebutkan sumbernya secara jelas, atau link ke ‘kadaikopi’ http://kadaikopi.carpediem123.com/?p=1668
Terima kasih.
Salaam… wah maaf ya saya sempat link tulisan ini dari multiply ke FB yang tidak menyebutkan sumber asli tulisan ini. Sebagai orang minang yang buta budaya minang, saya baru tahu ternyata tambo minang juga ada kaitannya dengan cerita2 tentang atlantis. Dulu saya sangat tertarik dengan mitologi yunani dan romawi, sungguh nggak menyangka mitologi yunani dan romawi yang saya kagumi sampai mengabaikan mitologi ranah nagari malah berkaitan.Padahal teman2 sering menceritakan kisah Nagari Minang, tapi saya malah kurang tertarik. Terima kasih lho atas tulisannya. nanti saya ralat di FB saya link tulisan ini…
Dina,
Terima kasih telah mampir di ‘kadaikopi’.
Benar, saya sendiri menemukan banyak sekali copy-paste artikel yang saya tulis ini diberbagai blog.
Jarang yang mau menuliskan sumber aslinya dari ‘kadaikopi’ (atau karena copy-paste berkali-kali jadinya memang tidak tahu sumber aslinya).
Pernah juga saya temukan di sebuah milis dengan tulisan ‘by Sylviana Murni’ di bawah judul aslinya.Rasanya nama ini nama seorang tokoh masyarakat.
Kebiasaan copy-paste ini kayaknya memang penyakit, karena membuat blog itu gampang dan (bisa juga) gratis. Yang jadi masalah: apa yang akan diisikan ?
Terima kasih kalau linknya dikoreksi.
Wassalam.
Mamak…
Tulisan alah dikoreksi..
Tarimo kasi…
Kalau ada lanjutan carito Atlantis, tulis baliak yo mamak.
Salaam
salam kenal, mantap ulasannya, minta ijin copas utk dimasukkan ke MP, tentunya dengan mencantumkan sumber, boleh gak? trim
Bung Roisgimo,
Silahkan di copas dengan mencantumkan sumbernya http://kadaikopi.carpediem123.com/?p=1668.
Wassalam
wah hebat…baru tau tentang buku ini dari twitter Good News From Indonesa hari ini truss daku google, akhirnya sampai ke blog ini. review yang bagus , terima kasih untuk informasinya. Karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin , atlantis di indonesia…bener2 promo yang bagus. Sayang professor Arysio Santos ini sudah wafat ya, karena banyak yang berargumentasi mengenai karyanya ini.
Suksess semua, sukses Indonesia!!
[...] Setelah membaca tulisan ini tampak bahwa isi tulisan ini (kecuali catatan tambahan dari Bung Ahmad yg dlm font italic) diambil & bersumber dari tulisan ayah saya di blog pribadinya : http://kadaikopi.carpediem123.com/?p=1668. [...]
Salam,
Sebenarnya buku ini isinya cukup controversial, terutama sekali karena banyak teorinya yang berlawanan dengan ilmu geologi.Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di
http://rovicky.wordpress.com/2006/11/11/benarkah-indonesia-itu-atlantis/
Salam; untuk semuanya…,
Sya teringat saat 1bulan yg lalu brsama beberapa kawan d ciputat mendiskusikah alam indonesia “yg agak metafisik ini; altlantik”
Saat itu seorang teman sy berujar; knapa bnyak agen intelejen asing yg msuk ke Indonesia?, ada juga yg brtanya; masih adakah literatur dokumen sejarah yg valid tentang kejayaan kerajaan2 nusantara dulu
(Majapahit, singosari, Pasai, Sriwijaya n Pasundan) yang memang pada wktu itu kekuasaanya meluas ampai k asia tenggara n hampir asia timur..
Sperti halnya ikrar patih gajah mada dlm sumpah palapa yang ingin menggabungkan nusantara dgn bangsa2 asia lainya..
Seorang teman lainya juga berkata bhwa keberadaan emas d indonesia sampai saat ini memang msih bnyak jumlahnya namun tersembunyi dan dijaga oleh keturunan gaib raja-raja kita dulu itu.. Konon uang IMF itu berasal dri para raja2 dulu d Indonesia yg hrus d sistribusikan k negara2 yng membutuhkan (bukan malah d monopoli)
Bahkan Bali sengaja d kamuflasikan sbagai tmpat pariwisata krena sesungguhnya utk mencegah penggalian massal atas emasnya yg cukup banyak itu..
Secara pribadi sy juga pernah membaca sbuah buku “2015 indonesia ngara terkaya no.5″ yng oleh penulisnya mengutip tentang kejayaan historis kerajaan2 indonesia masa lalu dgn hitungan putaran siklus peradabanya akan kembali d tahun 2015..
Pada prinsipnya sya sangat yakin; bahwa Indonesia adlah negara yg besar n subur dgn anugrah alamnya dri allah.. Hanya SDM msyarakatnya msih blum bsa d sinergiskan, mungkin krena egoisme msing2 individunya yg sgt tinggi serta lemahnya perencanaan dan tindakan dalam mengelola negeri ini..
Mudah2 kberadaan tntang artikel d blog ini bsa menjadi inspirasi segar bgi generasi baru indonesia..
Tpi klo bolh saran sbelum kita benar2 mampu mengelola n menjaga SDM n SDA kita, saya pikir jngan trlalu fulgar mencerikatakan kebesaran Indonesia, krena ini bisa d “dicuri” oleh asing n d jadikan hipotesa untk meneliti bngsa indonesia.. Untk kmudian memanfaatkanya scara negatif..
Indonesia is trully atlantik..
Wallua’lam..
Salam nusantara
aRs…..
[...] Sumber: Kadaikopi [...]
[...] Sumber: Kadaikopi [...]
mw betul atau tidak yang penting INDONESIA makin dikenal di dunia,, tx to SANTOS
mohon ijin share di FB..trimakasih
Leave your response!
Meta
Pindah Alamat
Tags
Categories
About Me
Old Soldier Never Die....They Just Fade Away......For Googling and Blogging.....
Kalender
Blogroll
Random Quote
— Kahlil Gibran (1883 – 1931)
Archives
Comment
»
UserOnline
Recent Comments
Most Commented
Most Viewed
Views